KEMISKINAN MENGUNDURKAN DIRI DARI SELURUH REVOLUSI
Sepanjang malam Karl Marx cuma bisa melotot tajam
Kepada selimut setengah kering setengah basah
Pada pinggang balai bambu hitam, milik Pak Maman
Yang sudah tiga jam terlentang tenang meski telanjang
Malu-malu Karl Marx menarik sarung kumal
Dan membuntal seluruh teori dan filsafat proletar
Yang berabad-abad dipikulnya bersama para revolusioner
Malam ini, kemiskinan mengundurkan diri dari seluruh revolusi
Bogor, 2009
SELEPAS PILPRES
Kopi kental dari Bu Haji dan keringat kerjabakti masjid jami
Cukup ampuh membunuh seluruh akar rumput revolusi
Selepas maghrib Bang Nafi lolos dari rayuan televisi
Tak ngiler diberi utopi oleh politikus penjual hatinurani
SBY dan JK pun telah kembali mesra bersalam dan main mata
Meski Mbak Mega memasang posko info kecurangan di media
Polemik DPT atau pemilih ganda telah tutup lawang sigotaka
Bang Nafi tinggal peduli babak kualifikasi sepakbola piala dunia
Bogor, 2009
DI KAMPUNG SELURUH KISAH TERASA SANTUN
Di kampung seluruh kisah terasa santun, meski ada yang diam-diam
Mematangkan tajam parang pada dendam yang disekam kezhaliman
Atas nama pencitraan, sumbangan, dan kemenangan satu putaran
Di kampung seluruh kisah terasa santun, meski ada yang ngaku bermimpi
Mendapat wangsit: dendam yang karatan kelak akan diledakkan
Untuk memecahkan reformasi menjadi serpihan orde-orde lain
Bogor, 2009
LIEBE BUITENZORG
sajak sma pada dinding kamar remaja 1986,
Meski telah kutinggalkan selama berabab-abad benci
Katamu, sesisa cerita itu akan senantiasa mengabadi
Di Buitenzorg, kota kelahiran cinta pertama
Hira kita bermula mengiqra degup jiwa
Begitu aku khusyuki, perasaan tak sabar dan tergesa
Setiap kali mencuri pucuk nuranimu yang hijau dan belia
Lewat lesung pipit yang kaubiarkan tiga menit terbuka
Dan senyum yang mengubah lapangan upacara jadi kebunraya
Sebelum lonceng terakhir berdentang menutup sabtu sekolah petang
Kau pun hilang di balik gerbang, pulang dengan hati tak lagi telanjang
Berharap cemas senin lusa dirgahayu kotamadya tahun ini teristimewa
Oleh rindu yang matang sempurna dikarbit 86400 detik jam wecker tua
Bogor, 2008
ALL OUT
unhappy ending antasari,
Sungguh tak sanggup memetik
Kuntum putih pada putik senyummu
Jika jemari luruh, bening batin pun leleh
Oleh kilau liur zaitun bibirmu
Terpesona dalam tiadaberdaya
Tepat ketika tahta dan mahkota dalam kangkangan
Dan kangen yang barabaja demikian tajam
Dan kepayang telah kupedangkan
Meskipun begitu, aku akan tetap all out
Tak sedetik pun mau mengaku hendak bercinta
Dengan cinta Fir’aun yang seluruh gelegaknya runtuh
Oleh tongkat Musa pada wajah Asiah
Apalagi sebagai Rahwana
Yang senjata angkara dan alengkanya sekilat punah
Oleh denyar-denyar cahaya
Dari kesetiaan cinta Sinta kepada Rama!
Magetan, 2009
TAFAKUR DI AIRPORT CHANGI
Ratumu bertahta naga bermahkota singa
Menggeliat elegan di balik ketek raksasa
Yang tertidur di atas debur dua samudera
Terlena nostalgia majapahit dan sriwijaya
Engkau menjelma negeri serambi mimpi
Bandar transit transaksi jual beli harga diri
Bagi anak-anak indon yang kehilangan negeri
Karena dicuri penjajah yang diundang abadi
Singapura, 2003
Indon=sebutan Indonesia di Singapura
ABADI MENGGILAI SUNYI
Seperti Majnun, aku pun abadi menggilai sunyi
Bersarang dalam makrifat kembara yang baqa
Mengerami gurun, lembah, goa, dan fatamorgana
Menetaskan hakikat singa bermunajat cinta
Hancurlah aku dilumat syamsi petualangan
Lebur sebagai debu yang membudak pada badai
Punah dalam syarikat angin, kecamuk, dan topan
Meski pada deru tetap maujud seserpih rindu
Magetan, 2009
MENJELAJAHI JAZIRAH PUISI
kisah majnun, demi islah para musafir dan para penyair
Menjelajahi jazirah puisi kujaulahi ribuan kafilah para penyair
Berserikat dengan terik, ular, mentari, badai, debu, dan gurun
Membikin oase-oase, harem-harem, dan kebun-kebun anggur
Bagi para musafir yang mabuk bibir Laila, namun muak syair Majnun
Menyemuti Nejd, para penyair pestapora euforia kata dalam kepayang pelukan dinar
Menggelar permadani hijau persia sepanjang bengawan emas tigris dan eufrat
Seraya mengusir Musa dari Mesir, memuja tahta fir’aun dan mahkota cleopatra
Dan istiqamah mengutuki para musafir yang diam-diam kangen menggali purba harta qarun
Jauh dari relung lembah sesunyian, Majnun menempuh bentangan mil hening
Yang berabad-abad menjadi sajadah bagi sujud-sujud sajak makrifat merahmanah
Bagi Cinta tapi bukan demi Laila, Majnun menanggalkan munajat-munajat petualangan
Mempersembahkan pualam batin untuk serambi islah para musafir dan para penyair
Temboro, 2009
Jaulah = mengelilingi
Merahmanah=merah hati
MENZIARAHI KEMBALI HIKAYAT TELAPAK KAKIMU
im memoriam ummi juwairiyah,
Menziarahi kembali hikayat telapak kakimu
Kuberdoa dengan tengadah perih ilalang
Yang meluruhkan makrifat-makrifat rinai
Dari pelukan kekabut ke pangkuan rerumput
Sejak epilog langkah episode kumushalakan
Dan seluruh letih sejarah telah kunashuhakan
Istiqomah kutaburkan tetasbih bening embun
Pada istirahmu di pucuk putih istana sakinah
Bergeletar pintu, jendela, dan eternit barzakh
Oleh sedesah nafas suci padang dada cintamu
Sungging senyummu semerbak heharuman sorga
Kemboja pun malu gugur di mahkota pusaramu
Sumedang, 2006
Syukur A. Mirhan, lahir di Bogor, 8 Mei 1971. Mengecap bangku pendidikan di SDN Ciherang IV, SMPN 1 Ciomas/Dramaga, SMAN 2 Bogor, Goethe Institut Bandung (1990-1995), dan Fakultas Bahasa dan Seni IKIP/UPI Bandung (1990-1997). Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Magetan. Karya-karya puisinya pernah dimuat di Hikmah Bandung, Pikiran Rakyat, Mitra Budaya, Pikiran Rakyat Cirebon, Isola Pos, Bandung Pos, Suara Karya, Suara Pembaruan, Republika, Swadesi, Annida, Ummi, MPA Surabaya, SuaraSantri Al-Madinah, Jurnal Bogor, Sabili, Fajar Banten, Antologi Puisi Forum Kebun Raya, dan Airmata yang Jatuh di Negeri Rembulan Timur.
“Tuhan adalah Buatan Manusia. Gadis-gadis Cantik itu Nyata”: Jeffrey
Epstein, Deepak Chopra dan… Kita
-
Oleh Reza A.A Wattimena Predator ini bernama Jeffrey Epstein. Kasusnya kini
merebak di seluruh dunia. Kejahatannya cukup jelas, yakni penipuan
finansial (p...
1 hari yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar